Sekilas tentang Usaha ini

Selasa, 14 Juni 2005

Oleh : Deddy Nur Zaman

Berawal dari sebuah ketidaksengajaan, kalau tidak mau dikatakan sebuah kebetulan, yang kini membuatku menjadi seorang pedagang buku kecil-kecilan di sela status mahasiswa yang kusandang sekarang. Bermula saat seorang kakak kelasku di Tokyo meminta tolong kepadaku untuk membelikan beberapa buku tentang keislaman dari tanah air ketika aku akan berlibur lebaran ke kampung halaman. Jadilah aku mengisi sebagian kecil dari waktu liburan pertamaku di Indonesia dengan aktivitas pencarian buku-buku pesanan tadi ditambah koleksi bukuku sendiri. Setelah kutemukan semuanya, kukirimkan paket yang cukup berat itu via pos laut, dan alhamdulillah sampai tujuan dengan selamat. Meskipun sampainya ke Tokyo 1 bulan setelah aku kembali dari liburan panjangku.

Dengan pengalaman itu, aku jadi tahu seluk beluk toko buku, pengiriman barang, serta beberapa pengetahuan dasar lainnya yang aku rasa cukup untuk menjadi modal seorang penyedia buku. Ditambah lagi hasil pengamatanku akan aktifitas seorang kakak kelasku yang lain yang menjual buku-buku keislaman saat pengajian. Tapi semua itu belum cukup untuk membuatku memiliki keberanian untuk menjadi seorang pedagang kecil-kecilan seperti sekarang. Aku hanya sebatas menawarkan bantuan untuk mencarikan dan membelikan buku-buku pesanan saat aku pulang ke kampung halaman, sampai sebuah ide lain datang dan menjadi faktor pendorong utama diriku untuk berdagang seperti sekarang.

Saat itu Mbak Vani, seorang penulis FLP yang cukup aktif menulis hingga sekarang, hadir di tengah-tengah kumpulan rekan-rekan yang sedang menggarap program pengajian pekanan untuk adik-adik SMP-SMU di Sekolah Indonesia di Tokyo tiap akhir pekan. Mbak Vani ikut bergabung dan aktif menggerakkan kawan-kawan, dan salah satu ide yang dia lontarkan adalah untuk mendirikan FLP Jepang, dimulai dengan menumbuhkan minat baca adik-adik peserta kajian. Tentunya, untuk merealisasikan ide itu, dirasa sangat perlu untuk mendatangkan bahan bacaan remaja yang Islami ke Jepang. Dan di situlah aku menawarkan diri untuk ambil peran, mumpung punya sedikit pengalaman. Akhirnya novel, cerpen, dan beragam tulisan anggota FLP dari berbagai penjuru Indonesia aku datangkan dengan niat untuk menghiasi perpustakaan tempat kajian kami diadakan.

Namun entah kenapa, akhirnya rencana itu mandeg ditengah jalan. Buku-buku yang awalnya direncanakan untuk dijual kepada pihak sekolahan, akhirnya mangkrak tak karuan. Semua tergeletak di kamar asramaku yang sebenarnya membuatku kurang begitu nyaman. Bukan karena kamarku menjadi semakin sempit karenanya, tapi lebih disebabkan perasaan sayang, tidak ada yang bisa memanfaatkan.

Akhirnya muncullah ide untuk menjual buku-buku tersebut saat acara pengajian bulan Ramadhan dan alhamdulillah berhasil kuwujudkan. Meniru jurus pedagang emperan yang jualan selepas Jumatan, daganganpun kugelar di salah satu sudut ruangan yang agak lapang. Memang awalnya butuh sebuah keberanian, tepatnya menyembunyikan rasa malu dalam-dalam, selain itu tentu saja kesabaran dan ketekunan. Dari situ tak kuduga, sambutan yang cukup datang baik dari teman-teman, dan juga peserta pengajian. Bahkan saat saya tidak berjualan, malah ada yang mencari dan menanyakan. Puji syukur karena bukan hanya aku yang memetik keuntungan dari situ, tapi rekan-rekan lainnya juga merasa dimudahkan. Di situlah aku menyadari, bahwa semua aktivitas kita jangan hanya dipandang dari sisi pribadi. Sejauh mana nilai manfaat yang bisa kita beri, itu yang menjadi motto-ku selama ini. Dan sejak saat itu kuteguhkan niat dan peranku untuk menjadi pedagang buku di negeri perantauan ini.

Alhamdulillah, berkat izin Allah, usaha kecil-kecilanku terbilang lancar, meski tak jarang menemui hambatan. Banyak sekali nilai tambah yang kudapatkan, bukan hanya keuntungan berupa materi dan latihan fisik saat mengangkat dagangan ke tempat penjualan, tapi banyak hal lain yang juga kuperoleh. Pengalaman, keuletan, kesabaran dan pelajaran penghargaan akan nilai perjuangan. Inilah yang menurutku paling utama.

Saat kuangkat kopor berat yang penuh berisi buku yang tak kurang dari 25 kilo, kuteringat akan cerita pengorbanan ibuku yang diajak ayah untuk merantau ke pulau seberang, Sulawesi Selatan, saat aku dan saudara-saudaraku masih belum genap berusia 3-4 tahunan. Saat itu, ibuku yang usianya tak jauh dari 22 tahun dan baru saja melahirkan adik bungsuku, berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan tambahan penghasilan dengan membuka kios kecil-kecilan. Dipanggulnya barang dagangan yang dibeli dari pasar untuk dijual di emperan halaman rumah. Bersusah payah dibawanya dagangan yang tak ringan, di kepala dan juga di jinjingan, menolak tawaran abang becak hanya demi menghemat pengeluaran, semua dilakukan tak lain untuk aku dan ketiga saudaraku, sebagai penyambung penghidupan.

Di saat lain ketika kunaik taksi sambil membawa 2 koli buku yang berat terisi, karena memang tak mungkin untuk kubawa sendiri, kuteringat akan perjuangan ayahku yang juga pernah menjadi supir taksi. Putusan PHK dari perusahaan tak bisa kami tolak meski sempat membuat kami terhenyak. Krisis moneter memaksa perusahaan tempat ayahku bekerja untuk melakukan perampingan, dan ayahkulah salah seorang yang terkena dampak perampingan itu. Masih tergambar jelas di ingatanku, pertama kali kulihat taksi milik ayahku, yaitu saat menjemput aku yang baru pulang dari pembinaan di Bandung dengan taksi itu, dan sejak saat itulah aku menjadi anak supir taksi. Sempat ada perasaan malu pada teman-temanku, seperti halnya yang kurasa pertama saat berjualan buku, tapi satu kalimat mantab dari ayahku saat itu yang tertancap erat dihatiku. "Nak, sekolah yang pinter, gak usah mikirin biaya. Insya Allah bapak akan terus berusaha supaya kamu bisa sekolah dan kuliah. Semua kerjaan sudi bapak lakukan asal halal demi kamu dan saudara-saudaramu", kata ayahku saat kami ngobrol berdua dan membicarakan rencana masa depan.

Dan kini aku di sini, di negeri teknologi, menerima beasiswa, memperoleh kemudahan dari segi materi. Setiap bulan uang masuk ke rekening pribadi, tak hanya sekedar cukup, bahkan bisa dikata berlebih. Tapi dengan begitu, aku justru takut kalau inderaku mati, rasa untuk mensyukuri rezeki, nurani yang dapat menilai harga sebuah perjuangan, nilai perasan keringat dan bantingan tulang. Aku tak mau berhenti, aku ingin selalu berusaha untuk memahami nilai jerih payah pribadi, nilai dari keringat sendiri dan syukur pada ilahi.

Kujalani aktivitasku berdagang, sembari kembali mengingat tetesan keringat cinta ibuku yang sampai sekarang tetap mengalir bersama peluh saat galon-galon aqua terangkat oleh tangannya yang perkasa tak pupus termakan usia, di sela rutinitas menunggui kedai di sebelah rumah. Dan sambil memutar kembali memori kisah ayahku yang selalu bercerita tentang pengalamannya sepanjang hari saat menyopir taksi, cerita yang mungkin tak setiap orang punya kesempatan untuk mendengarnya, apalagi mengerti nilainya. Kisah ayahku yang sekarang juga masih suka bercerita, bagaimana keadaan bengkel di sebelah rumah yang sedang dikelolanya. Dan di sini, meskipun aku yakin kalau kisah perjuanganku ini bukanlah apa-apa kalau dibandingkan dengan kisah dan cerita orang tuaku, laksana kerikil dengan bumi seisinya, tapi aku ingin tetap berusaha. Aku hanya ingin mencoba memahami arti dan nilai perjuangan serta pengorbanan orang tua yang penuh cinta dan keikhlasan.

Nezu, 7 Juni 2005
Untuk ibuku yang selalu kurindukan dan Ayahku yang selalu kubanggakan.